Makalah Sejarah Penulisan Al-Qur’an

          Sejarah Penulisan Al-Qur'an
A. Latar Belakang
Pada zaman Rasulullah SAW, pemeliharaan ayat-ayat al-Qur’an dilakukan melalui hafalan baik oleh Rasulullah maupun oleh sahabat-sahabat beliau. Namun kemudian Rasul memerintahkan para sahabat untuk menulisnya dengan tujuan untuk memperkuat hafalan mereka. Ayat-ayat al-Qur’an tersebut ditulis melalui bendabenda seperti yang terbuat dari kulit binatang, batu yang tipis dan licin, pelapah kurma, tulang binatang dan lain-lain. Tulisan-tulisan dari benda-benda tersebut dikumpulkan untuk Nabi dan beberapa diantaranya menjadi koleksi pribadi sahabat yang pandai baca tulis.
Tulisan-tulisan melalui benda yang berbeda tersebut memang dimiliki oleh Rasulullah namun tidak tersusun sebagaimana mushaf yang sekarang ini. Dan alquran merupakan mukjizat Allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad sebagai berikut.
Surat Al-‘Ankabut Ayat 50
وَقَالُوا۟ لَوْلَآ أُنزِلَ عَلَيْهِ ءَايَٰتٌ مِّن رَّبِّهِۦ ۖ قُلْ إِنَّمَا ٱلْءَايَٰتُ عِندَ ٱللَّهِ وَإِنَّمَآ أَنَا۠ نَذِيرٌ مُّبِينٌ
Artinya: Dan orang-orang kafir Mekah berkata: “Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?” Katakanlah: “Sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata”.« Al-‘Ankabut 49 ✵ Al-‘Ankabut 51 »
Namun, ketika Rasul wafat, dan digantikan oleh khalifah Abu Bakar, terjadi pemurtadan masal dan menyebabkan Khalifah Abu Bakar melakukan tindakan dengan cara memeranginya. Dalam perang yang disebut perang Yamamah tersebut sekitar 70 Huffaz (para penghafal Qur’an) mati syahid.
Dari situlah muncul gagasan untuk mengumpulkan Ayat al-Qur’an yang dipelopori oleh Umar bin Khattab. Meskipun gagasan tersebut tidak langsung disetujui oleh Khalifah Abu Bakar, namun alasan Umar bin Khattab bisa diterima dan dimulailah pengumpulan al-Qur’an hingga selesai. Dengan demikian, disusunlah kepanitiaan atau Tim penghimpun al-Qur’an yang terdiri atas Zaid bin Tsabit sebagai ketua dibantu oleh Ubay bin Ka’ab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan para Sahabat lainnya sebagai Anggota.
Namun dengan rentan waktu yang panjang, mulai pada tanggal 12 Rabbiul
Awwal tahun 11 H/632 M yang ditandai dengan wafatnya Rasulullah, hingga 23-35 H/644-656 M (masa pemerintahan Khalifah Usman bin Affan) atau sekitar 18 tahun setelah wafatnya nabi barulah dibukukan al-Qur’an yang dikenal dengan Mushaf Utsmani. Antara rentan waktu yang cukup panjang hingga beragam suku dan dialek apakah berpengaruh atas penyusunan kitab suci al-Qur’an tentunya masih menjadi tanda tanya.
Sementara pandangan seperti di atas, umat Islam di Seluruh Dunia meyakini bahwa al-Qur’an seperti yang ada pada kita sekarang ini adalah otentik dari Allah swt. melalui Rasulullah saw., namun cukup menarik, semua riwayat mengatakan bahwa pembukuan kitab suci itu tidak dimulai oleh Rasulullah saw., melainkan oleh para sahabat beliau, dalam hal ini khususnya Abu Bakar, Umar Bin Khattab dan Usman Bin Affan.
Pesan komunikasi yang telah melewati perantara dari seorang tertahap orang lain, terlebih melewati frekuensi jumlah orang yang banyak akan meragukan keabshahan pesan alsi tersebut. Selain itu, rentan waktu yang cukup lama juga amat berpengaruh terhadap nilai dari pesan. Yang menarik adalah seperti apa membuktikan bahwa pesan al-Qur’an adalah sesuatu yang telah ditetapkan berdasarkan ketetapan Allah.
Sesudah beberapa tahun berlalu dari pemerintahan Usman timbul usaha dari para sahabat untuk meninjau kembali suhuf-suhuf yang telah ditulis oleh Zaid bin Sabit. Diriwayatkan oleh Bukhari dari Anas, bahwa Hudzaifah Ibnu al- Yaman datang kepada Usman karena melihat hebatnya perselisihan dalam soal qiraat. Hudzaifah meminta kepada Usman supaya lekas memperbaiki keadaan itu, lekas menghilangkan perselisihan bacaan agar umat Islam jangan berselisih mengenai kitab mereka, seperti keadaan orang-orang Yahudi dan Nasrani.
Maka Usman meminta kepada Hafsah supaya memberikan suhuf-suhuf yang ada padanya untuk disalin ke dalam beberapa mushaf. Sesudah suhuf-suhuf itu diterima beliaupun menyuruh Zaid bin Sabit, Abdullah Ibnu Zubair, Zaid Ibnu Ash, Abdurrahman Ibnu Haris Ibnu Hisyam menyalin dari suhuf-suhuf itu beberapa mushaf. Pedoman yang diberikan kepada badan tersebut, apabila terjadi perselisihan qiraat antara Zaid Ibnu Sabit, beliau ini bukan orang Qurais– hendaklah ditulis menurut qiraat yang Qurais, karena Alquran itu diurunkan dengan lisan Qurais. Setelah selesai mereka laksanakan pekerjaan tersebut, suhuf- suhuf itu dikembalikan kepada Hafsah dan Usman pun mengirim ke tiap-tiap kota besar satu mushaf, serta memerintahkan supaya dibakar segala mushaf-mushaf yang lain dari yang ditulis oleh badan yang terdiri dari empat orang ini.
Menurut riwayat Ibnu Abu Daud, dua belas orang. Dan yang disepakati bahwa Zaid-lah yang mengepalai badan tersebut. Badan ini dibentuk untuk menentukan bahasa mana yang harus dipakai (lafad dari bahasa mana yang dipakai), untuk menghilangkan perselisihan tentang pemakaian kalimat. Pada masa Abu Bakar dan Umar masing-masing penulis mushaf memegang tulisannya. Akan tetapi oleh karena yang demikian membawa kecederaan dan telah menimbulkan perkelahian, karena masing-masing fanatik kepada tulisan yang ada pada suhufnya, dirasakan perlu untuk menghilangkan kecederaan, menentukan kalimat yang dimasukkan ke dalam mushaf, walaupun bunyi qiraat masih bisa berlainan. Badan ini tidak mengerjakan selain daripada menyalin ke dalam mushaf saja.
Tegasnya badan tersebut berpang erat kepada penyusunan yang telah disempurnakan dilakukan dimasa Abu Bakar. Sesudah sempurna persesuaian terhadap segala ayat-ayat Alquran, tempatnya di dalam surah dan penertiban surah, Usman pun menyuruh salin empat mushaf dari naskah pertama yang dinamai naskah al-Iman. Satu naskah ini dikirim ke Mekah, satu naskah ke Kufah, satu ke Basrah, satu lagi dikirim ke Sam (Siria). Asal salinan yang ditulis badan lajnah itu tinggal di tangan Usman sendiri, Usman memerintahkan supaya disita segala suhuf-suhuf yang terdapat dalam masyarakat dan membakarnya. Dan Usman menyuruh supaya kaum muslimin membaca Alquran dengan qiraat yang termateri dalam al-Imam itu. Kata al-Qadi Abu Bakar dalam kitab al-Intishar, Usman tidak bermaksud apa yang dimaksudkan oleh Abu Bakar, yaitu menulis Alquran atas halaman kertas. Beliau bermaksud menyatukan umat terhadap qiraat- qiraat yang diterima dari nabi serta membatalkan yang lain. Kemudian Usman bermaksud supaya para umat memegangi mushaf yang sudah teratur sempurna, untuk menolak kerusakan-kerusakan yang timbul karena perselisihan qiraat.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka kami mengangkat beberapa rumusan masalah dianataranya:
1. Apa yang dimaksud dengan Jam’ul Qur’an ?
2. Apa yang dimaksud dengan Rasm Qur’an ?
3. Bagaimana proses pengumpulan al-Qur’an pada setiap periode ?
C. Tujuan
1. Mengetahui apa pengertian dari Jam’ul Qur’an.
2. Mengetahui apa pengertian dari Rasm Qur’an.
3. Mengetahui secara terperinci apa bagaimana proses pengumpulan al-Qur’an pada setiap periodenya

.

Download Word

Author: Zukét

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *