Makalah Proyeksi Peta

           
Peta adalah representasi dari sebagian atau seluruh permukaan bumi yang melengkung ke dalam bidang datar. Dalam pembuatan peta, persyaratan geometrik yang seharusnya dipertahankan adalah jarak antara titik-titik pada peta harus sesuai dengan jarak sebenarnya di model bumi (ekuidistan), luas suatu area pada peta harus sesuai dengan luas sebenarnya pada model bumi (ekuivalen), dan bentuk suatu area atau sudut harus dipertahankan dipeta dengan bentuk di model bumi. Pertimbangan yang digunakan untuk memilih sistem proyeksi tertentu adalah ketelitian peta yang diinginkan serta penggunaannya, letak geografis, bentuk, luas wilayah yang akan dipetakan, dan ciri-ciri asli yang akan dipertahankan.
Metode-metode proyeksi peta yang umumnya dipakai di Indonesia untuk pemetaan adalah proyeksi Polyeder, proyeksi Mercator, dan proyeksi Universal Transverse Mercator (UTM). Badan pertanahan Nasional (BPN) sebagai instansi pemerintah yang memberikan kepastian hukum terhadap kepemilikan tanah telah menerapkan suatu standar Pemetaan Nasional dan menghasilkan peta berupa peta pendaftaran tanah digital yang akurat dengan sistem proyeksi TM 30 dengan elipsoid referensi WGS 84. Proyeksi TM 30 dan UTM merupakan dua jenis proyeksi silinder transversal conform. Secara geometrik kedua sistem proyeksi itu memiliki kesamaan karena bidang silinder memotong bola bumi pada dua buah meridian. Perbedaan antara proyeksi TM 30 dengan proyeksi UTM hanya terletak pada lebar zonedan faktor skala pada meridian tengah.
Proyeksi peta merupakan suatu sistem yang memberikan hubungan antara posisi titik-titik di bumi dan di peta (Prihandito 1988). Tidak ada proyeksi peta yang bebas dari distorsi, sementara suatu peta dikatakan ideal jika luas benar, bentuk benar, arah benar dan jarak benar. Hal yang dapat diupayakan agar distorsi sekecil mungkin sehingga memenuhi salah satu syarat peta ideal adalah membagi daerah yang dipetakan menjadi bagian yang tidak terlalu luas dengan menggunakan bidang datar atau bidang yang dapat didatarkan sebagai bidang proyeksi. Secara teoritik, perbedaan luas antara sistem proyeksi TM 30 dan sistem proyeksi UTM jelas terlihat untuk perubahan posisi luasan yang searah bujur (timur-barat), tetapi untuk perubahan posisi luasan searah lintang (utara-selatan) hampir tidak ada perbedaan luas yang berarti.

 
 

 

Download Word

Download PDF

Author: Fitri

Leave a Reply

Your email address will not be published.