Makalah Pokok Pokok Ajaran Islam (Syari’ah, Thoriqoh, Sufisme)

           
Dalam Syari’at Islam dikenal adanya cara penyembuhan kepada Tuhan berupa ibadah salat, puasa, haji dan Iain-Iain. Namun menurut Harun Nasution bahwa ada segolongan umat Islam yang belum merasa puas dengan pendekatan diri kepada Tuhan melalui ibadah salat, puasa dan haji. Mereka ingin lebih dekat dengan Tuhan. Jalan untuk itu diberikan oleh Tasawuf. Tasawuf adalah usaha seseorang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan sedekat mungkin, dengan melalui pensucian diri dan memperbanyak ibadah di bawah bimbingan guru/syekh.
Sedangkan ajaran-ajaran Tasawuf yang merupakan jalan yang harus ditempuh untuk mendekatkan diri kepada Tuhan itulah yang dimaksud dengan tarekat. Di dalam ilmu tasawuf, istilah tarekat itu tidak saja ditujukan pada aturan dan cara-cara tertentu yang digunakan oleh seorang syaikh. Tarekat tidak pula ditujukan terhadap kelompok yang menjadi pengikut salah seorang syaikh, tetapi meliputi segala aspek ajaran yang ada di dalam agama Islam, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji yang semuanya itu merupakan jalan mendekatkan diri kepada Allah.3 Bahkan bisa sampai pada tingkat ma’rifat, ataupun ittihad.
Lebih khusus lagi tarikat di kalangan sufiyah berarti sistem dalam rangka mengadakan latihan jiwa, membersihkan diri dari sifat-sifat yang tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat yang terpuji dan memperbanyak zikir dengan penuh ikhlas semata-mata untuk mengharapkan bertemu dengan dan bersatu secara ruhiah dengan Tuhan.
Jalan dalam tarikat itu antara lain terus-menerus berada dalam zikir atau ingat terus kepada Tuhan, dan terusmenerus menghindarkan diri dari sesuatu yang melupakan Tuhan.
Ada satu sisi yang tidak diketahui oleh masyarakat Muslim pada umurnnya, bahwa dalam dunia tarekat (sufisme) sesungguhnya memiliki karakteristik dinamis, anti stagnasi dan status quo. Seorang sufi selalu berubah dan terus menerus berubah untuk berubah. Perubahan ini dapat dilihat dari maqamat dan ahwal (kondisi psikis) yang harus dilalui sufi. Mula-mula ia melalui pintu taubat kemudian wara’, zuhud, faqr, sabar tawakal hingga maqam tertinggi. Begitu pula ahwal-nya pun terus
meningkat dari murâqabah hingga ahwâl li al-fana’, bahkan sampai fana’il fana, kemudian baqa’ ma’a Allâh. Singkatnya, menjelajahi dunia tarekat (tasawuf) tidak akan ada kata puas dengan setiap maqam dan hal yang diperoleh. Layaknya orang yang meminum air laut, semakin lama bukan hilang rasa hausnya, justru semakin dahaga. Untuk itu, terminologi tasawuf terus berkembang dan relevan untuk semua kurun waktu.

 
 

 

Download Word

Download PDF

Author: Fitri

Leave a Reply

Your email address will not be published.