Makalah Manajemen Resiko Likuiditas

           
Perbankan syariah menjadi salah satu instrument keuangan yang sedang berkembang pesat di Indonesia. Alternatif bagi masyarakat untuk melakukan investasi guna mengembangkan sejumlah dana yang dimiliki. Di sejumlah negara, baik negara mayoritas muslim maupun bukan, selama tiga dasawarsa, perbankan syariah berkembang cukup pesat. Indonesia sendiri menerapkan dual banking system yang dapat diadopsi seluruh lembaga keuangan (kornitasari dan manzilati, 2013). Krisis yang menerpa dunia tahun 2008, membuat lembaga keuangan, terutama bank, berusaha menjaga nilai likuiditasnya, demi bertahan dari badai krisis yang telah mengakibatkan beberapa lembaga keuangan kolaps.
Sampai saat ini jumlah lembaga perbankan syariah di Indonesia terdiri dari 13 bank umum syariah dan, 21 unit usaha syariah dengan trend statistik yang terus menunjukkan peningkatan (statistik perbankan syariah, maret 2017).
Progres pertumbuhan yang tinggi juga berpotensi menimbulkan permasalahan risiko likuiditas yang tidak terhindarkan, yaitu sebuah program ketahanan manajemen risiko likuiditas (mobin dan ahmad, 2014). Meskipun, pertumbuhan tersebut masih didominasi oleh wilayah marketnya sampai 30% di tahun-tahun terakhir sedang pertumbuhan asset masih 5% dibandingkan lembaga perbankan umum konvensional.
Likuiditas lembaga keuangan terbagi menjadi dua area utama yaitu likuiditas instrument keuangan di pasar keuangan dan likuiditas pengembalian utang jangka panjang atau solvabilitas (mobin dan ahmad, 2014). Pasar keuangan yang terus berkembang membutuhkan manajemen risiko likuiditas lebih, mengingat akan berdampak pada stabilitas kinerja keuangan, namun berubahnya hutang jangka pendek menjadi hutang jangka panjang mempengaruhi likuiditas bank syariah, bersifat internal pada kelangsungan bank syariah.
Bank Indonesia sampai saat ini telah pula menyediakan beberapa instrument manajemen likuiditas yang dapat dipilih oleh lembaga perbankan syariah untuk mengelola risiko likuiditas, di antaranya sertifikat bank Indonesia syariah (sbis), deposito antar bank syariah, sertifikat mudhorobah antar bank syariah (sima), fasilitas bank Indonesia syariah (fasbis), fasilitas pembiayaan jangka pendek bagi bank syariah (fpjps), dan fasilitas likuiditas intrahari bagi bank umum berdasarkan prinsip syariah (flis). Penggunaan instrument sebagai contoh sbis, akan mengakibatkan dana kelebihan likuiditas atau ‘idle money dari bank syariah hanya akan mengendap di bank Indonesia. Hal ini dapat menyebabkan kelesuan disektor riil karena dana yang tidak berputar (kornitasari dan manzilati, 2013).
Menurut arifin (2009), salah satu kendala operasional yang dihadapi perbankan syariah adalah kesulitan dalam mengendalikan likuiditasnya secara efisien. Beberapa gejala yang terlihat adalah tidak tersedianya kesempatan investasi segera atas dana-dana yang diterimanya, dan kesulitan mencairkan dana investasi yang sedang berjalan, pada saat ada penarikan dana dalam situasi krisis.

 
 

 

Download Word

Download PDF

 
Author: Zukét

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *