Makalah Fiqih Janaiz

Loading

           

A. Latar belakang
Kematian merupakan suatu keniscayaan bagi umat manusia, “Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 185). Kematian adalah misteri yang hanya diketahui oleh Allah SWT, “Jiwa tidak mengetahui di bagian bumi mana ia meninggal dunia” (Q.S. Luqman [31]: 34).
Manusia tidak bisa menghindari kematian, di manapun manusia bersembunyi, kematian pasti akan menemukannya, “Di manapun kalian berada, niscaya kematian akan menyusul kalian, meskipun kalian berada di benteng yang kokoh” (Q.S. al-Nisa’ [4]: 78). Oleh sebab itu, sia-sia saja jika manusia berusaha melarikan diri dari kematian, “Katakanlah, tidak akan bermanfaat bagi kalian melarikan diri dari kematian” (Q.S. al-Ahzab [33]: 16).
Kematian tidak akan datang lebih cepat maupun lebih lambat, kematian akan tiba ketika memang sudah ajalnya, yakni masuk waktu yang ditetapkan oleh Allah SWT, “Jiwa tidak akan mengalami kematian, kecuali atas izin Allah” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 145). Ketika itu, datanglah Malaikat Maut, “Katakanlah, yang mewafatkan kalian adalah malaikat maut yang diwakilkan kepada kalian” (Q.S. al-Sajdah [32]: 11), kemudian manusia akan merasakan sakaratul maut, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Qaf [50]: 19

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ

Dan datanglah sakaratul maut dengan nyata. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.
Tulisan ini membahas seluk beluk amalan khas Islam terkait kematian, mulai dari menjenguk orang yang sakit, sakaratul maut, ta’ziyah dan perawatan jenazah yang meliputi memandikan, mengafani, menshalati dan menguburkan

Download Word

Author: Zukét

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *